Kuda Sumba Datang dari Mana?

KOMPAS.com — Menyebut kata Sumba, orang akan membayangkan kuda. Mengapa? Kuda mempunyai ikatan historis dengan orang Sumba. Kuda telah menjadi bagian hidup masyarakat di pulau paling selatan Indonesia itu sejak pertengahan abad ke-18, jauh sebelum Belanda mendatangkan sapi ongole ke pulau itu dan menetapkan Sumba sebagai pusat pembibitan sapi ongole pada 1914.

Dari berbagai jenis kuda di dunia, kuda Arab dapat dianggap sebagai cikal bakal kuda-kuda yang ada di Sumba saat ini. Kuda yang terdapat di Sumba dan wilayah Asia Tenggara pada umumnya termasuk ras timur. Berbeda dengan kuda ras Eropa dan Amerika yang memiliki tengkorak lebih besar.

Dari bentuk wajahnya, kuda ras timur diduga merupakan keturunan kuda Mongol. Kuda ini merupakan keturunan dari jenis Przewalski yang ditemukan pada 1879 di Asia Tengah. Penyebarannya ke wilayah Asia diperkirakan bersama dengan penyebaran agama Hindu.

Kuda di Indonesia dipengaruhi iklim tropis serta lingkungan. Tinggi badannya 1,15-1,35 meter sehingga tergolong dalam jenis poni. Bentuk kepala umumnya besar dengan wajah rata, tegak, sinar mata hidup, serta daun telinga kecil. Ciri-ciri lain, bentuk leher tegak dan lebar. Tengkuk umumnya kuat, punggung lurus dan pinggul kuat. Letak ekornya tinggi dan berbentuk lonjong, dada lebar, sedang tulang rusuk berbentuk lengkung serasi.

Kakinya berotot kuat, kening dan persendiannya baik. Sedangkan bentuk kuku kecil dan berada di atas telapak yang kuat. Jika kuda ini berdiri, akan tampak sikapnya yang kurang serasi (kurang baik) karena kedua kaki bagian muka lebih berkembang apabila dibandingkan dengan kaki belakang. Sikap berdiri seperti ini terdapat pada berbagai jenis kuda di Asia Tenggara, termasuk di Sumba.

Kapal Portugis yang datang ke wilayah Indonesia bagian timur pada abad ke-16 untuk mencari rempah-rempah sempat singgah di beberapa pelabuhan, antara lain, di Sulawesi Utara. Pada saat singgah itulah mereka memperkenalkan jenis kuda yang mereka bawa kepada penduduk setempat. Terjadilah tukar-menukar barang dagangan antara penduduk dan para pedagang Portugis tersebut. Kuda asal Eropa itu kemudian disilangkan dengan kuda lokal. Hasil persilangan ini membuahkan keturunan kuda Eropa di Minahasa.

Selain jenis kuda Arab dan Eropa yang dikenal di Indonsia, masih ada lagi satu jenis kuda yang disebut kuda Mongol, berasal dari daratan Asia. Kuda-kuda ini kemudian disilangkan dengan jenis kuda setempat dan menghasilkan kuda baru, berukuran tinggi 120 cm, bulu berwarna antara lain keemasan, hitam, dan putih. Kuda ini masih terdapat di Cirebon dan pegunungan Tengger di Jawa Timur.

Jenis-jenis kuda yang terdapat di Indonesia, antara lain, kuda Makassar, kuda Gorontalo dan Minahasa, kuda Sumba, kuda Sumbawa, kuda Bima, kuda Flores, kuda Sabu, kuda Rote (kuda Kori), kuda Timor, kuda Sumatera, kuda Jawa, kuda Bali dan Lombok, serta kuda Kuningan.

Kuda Sumba aslinya merupakan kuda poni dan kemudian diberi nama kuda Sandel atau lengkapnya kuda Sandelwood Pony. Kuda Sandel yang dikembangkan di Sumba merupakan kuda pacu asli Indonesia. Kuda Sumba merupakan hasil perkawinan silang kuda poni lokal (grading up) dan kuda Arab. Nama “sandelwood” sendiri diambil dari nama cendana (sandalwood) yang pada masa lampau pernah menjadi komoditas unggulan dan diekspor dari Sumba dan pulau-pulau di Nusantara ke negara Asia lainnya, seperti India.

Populasi kuda Sumba sempat menurun menjelang pertengahan abad ke-20 akibat meluasnya penyakit antrax. Namun, meningkat kembali ketika ada perbaikan mutu melalui perkawinan silang dengan kuda Australia. Perkawinan silang dengan kuda Australia ini bertujuan untuk perbaikan kecepatan dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Saat ini populasi kuda di Sumba diperkirakan mencapai 50.000-an ekor. Di Kabupaten Sumba Timur saja hasil sensus ternak yang dilakukan Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur pada 2008 terdata sebanyak 28.804 kuda (betina 18.958 ekor dan jantan 9.846 ekor). Melihat komposisi antara jantan dan betina tersebut, diperkirakan pertumbuhan populasi kuda di Sumba Timur akan terus meningkat. Populasi kuda di Sumba Timur tersebar hampir di seluruh kecamatan. Populasi terbanyak ada di Kecamatan Pahunga Lodu (3.425 ekor), Kecamatan Kahaunga Eti 3.000 ekor, Kanatanga 2.378 ekor, Tabundung 1.624 ekor,  Pandawai 1.453 ekor, Pinupahar, Haharu, dan beberapa kecamatan lainnya 1.000 ekor lebih dengan total peternak sebanyak 8.087 orang.

Jaminan peningkatan populasi ini disampaikan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Sumba Timur Ir Robert Gana, beberapa waktu lalu. Robert mengatakan, populasi kuda terus meningkat dan pihaknya terus melakukan pengawasan secara ketat dan vaksinasi rutin.

Kuda sandel memiliki postur rendah apabila dibandingkan kuda-kuda ras Australia atau Amerika. Tinggi punggung kuda 130-142 cm, banyak dipakai orang untuk kuda tarik, kuda tunggang, dan bahkan kuda pacu. Keistimewaannya terletak pada kaki dan kukunya yang kuat dan leher besar. Kuda Sumba juga memiliki daya tahan yang istimewa. Warna bulu bervariasi, ada yang hitam, putih, merah, krem, abu-abu, dan belang.

Kuda, bagi orang Sumba, awalnya hanya digunakan sebagai alat transportasi. Namun, seiring dengan perkembangan kehidupan orang Sumba, kuda tidak hanya sebagai alat transportasi, tetapi juga dipakai sebagai mahar (belis), sebagai cendera mata untuk urusan adat, seperti perdamaian, dan untuk bawaan saat menghadiri upacara penguburan. Bahkan, kuda bagi orang Sumba dianggap sebagai kendaraan leluhur.

Sumber-Kompas

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: